Mengapa Hari Buruh Sedunia Identik dengan Unjuk Rasa dan Apa Saja Tuntutannya?



Setiap tanggal 1 Mei, seluruh dunia memperingati hari buruh. Hari buruh sedunia atau kerap disebut Mayday merupakan suatu peringatan sarat sejarah yang selalu dikenang oleh para buruh di dunia. Lalu, darimana sejarah berasal dan mengapa mayday selalu identik dengan unjuk rasa? Berikut ini ulasannya.


Sejarah Mayday

Gerakan hari buruh sedunia sejatinya telah berlangsung lebih dari seratus tahun lalu. Hari buruh diawali ketika sekelompok buruh di Amerika Serikat pada abad ke-19 berunjuk rasa untuk menuntut jam kerja mereka yang dianggap tidak manusiawi. Pada saat itu, setiap pekerja diharuskan untuk bekerja selama 18-20 jam setiap harinya. Dengan kata lain, para pekerja hanya memiliki setidaknya waktu 4 jam untuk beristirahat dan memenuhi kehidupan sehari-harinya untuk bekerja. Hal inilah yang membuat sekelompok buruh disana melakukan unjuk rasa berupa tuntutan agar jam kerja dikurangi menjadi 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk beristirahat dan 8 jam untuk rekreasi.

Lalu, mengapa disebut sebagai Mayday? Penyebutan Mayday sebetulnya didasarkan pada gerakan kaum buruh di Kanada. Pada saat itu, para buruh di Kanada terinspirasi dengan pergerakan yang dilakukan buruh di Amerika Serikat dalam memperjuangkan haknya. Akhirnya, tuntutan mereka pun terpenuhi pada tanggal 1 Mei yang juga disebut sebagai Mayday.


Tuntutan para pekerja yang semakin beragam


Seiring berjalannya waktu, Mayday terus menerus dirayakan setiap tahunnya dengan beragam tuntutan yang semakin bervariasi. Jika dahulu waktu bekerja yang dituntut, kini para buruh atau kelas pekerja mulai menuntut berbagai macam hal lainnya untuk menunjang kehidupan mereka. Mulai dari kenaikan gaji setiap tahunnya, penghapusan sistem outsourcing hingga yang paling terkini penolakan tenaga kerja asing di Indonesia.

Mengulas soal kenaikan gaji, setiap orang tentu menginginkannya. Namun, ada kalanya tuntutan kenaikan gaji diimbangi dengan rasionalitas kebutuhan para pekerja tersebut. Saat ini, beberapa daerah di sekitar Jakarta seperti Bekasi dan Karawang memiliki Upah Minimum Regional yang sangat tinggi yakni sekitar 4 juta sebulannya. Upah ini tentu sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari para pekerja. Sayangnya, beberapa golongan masih merasa kurang dengan upah yang diterimanya dan menuntut kenaikan gaji yang terkadang tidak sepadan dengan kemampuannya dalam bekerja.

Selain itu, tuntutan penghapusan sistem outsourcing juga menjadi momok yang selalu dibahas setiap tahunnya. Sistem outsourcing merupakan sistem perekrutan pegawai yang menggunakan pihak ketiga atau dengan menggunakan sistem kontrak di dalamnya. Dengan kata lain, ada pihak lain yang berperan dalam melakukan proses perekrutan dan setiap buruh yang bergabung tidak akan menjadi pegawai tetap sepanjang hidupnya. Hal ini kerap kali menjadi polemik mengingat para buruh telah merasa nyaman dengan pekerjaannya dan umur yang semakin bertambah sehingga membuatnya kesulitan untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Di sisi lain, penghapusan sistem outsourcing dan kontrak juga sulit dihapuskan perusahaan mengingat tingginya permintaan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan lapangan pekerjaan yang ada. Jika memperhatikan problematika yang ada, rasanya sulit untuk menghapus sistem ini dan para buruh akan terus menerus berada dalam sistem kontrak sepanjang hidupnya.

Tuntutan terkini yang tengah menjadi perbincangan adalah tenaga kerja asing yang mulai masuk ke Indonesia. Persoalan tenaga kerja asing merupakan persoalan yang pelik mengingat masih tingginya tingkat pengangguran di Indonesia. Namun, perekrutan tenaga kerja asing juga bukan tanpa sebab mengingat kompetensi pekerja Indonesia yang masih dibawah rata-rata. Dengan demikian, ada baiknya para buruh berkaca dan mulai berfikir matang bagaimana cara mereka dalam meningkatkan kompetensi sehingga dapat berkompetisi dengan tenaga kerja asing

0 comments