Hukum Riba Bagi Peminjam

Hukum Riba Bagi Peminjam

hukum riba bagi peminjam

Pengertian Riba


Riba berasal dari bahasa Arab, yang berarti tambahan, membesar atau meningkat. Menurut istilah, riba artinya tambahan khusus sebagai balas jasa atas pinjaman yang diberikan.

Macam-macam Riba


Riba terbagi menjadi dua macam, yaitu riba dalam jual beli dan riba dalam hutang-piutang

1. Riba dalam Jual Beli (Riba Fadhl)

Riba fadhl berasal dari kata al-fadhl yang artinya tambahan pada salah satu jenis barang yang ditukar. Riba dalam jual beli atau riba fadl terjadi jika saat melakukan tukar menukar barang, nilainya berbeda.

Misalnya menukar 1 kg beras dengan 1,1 kg beras. Jadi agar tidak termasuk riba fadhl, maka 1 kg beras ditukar dengan 1 kg beras dengan kualitas yang sama. Penukarannya saat itu juga, tidak ditunda.

Contoh lain dari riba fadhl adalah menukar kalung emas seberat  10 gram dengan gelang emas 5 gram. Meskipun gelangnya memiliki nilai seni yang tinggi, tapi tetap saja sama-sama emas dan berat keduanya berbeda. Jadi termasuk riba fadhl. Dalam perbankan, yang termasuk riba fadhl adalah transaksi valuta asing yang dilakukan secara tidak tunai.

2. Riba dalam Utang Piutang (Riba Nasi’ah)

Riba nasi’ah berasal dari kata an-nasaa’u yang artinya penangguhan. Riba nasi’ah adalah adanya tambahan karena penangguhan suatu barang. Misalnya Si A meminjam uang pada B 1 juta, dalam waktu satu bulan uang tersebut harus dikembalikan. Namun dalam waktu satu bulan si A belum bisa mengembalikan uang pada B. Si B pun memberi tambahan waktu pada si A dengan syarat tambahan uang, misal perjanjiannya menjadi 1,1 juta. Nah, praktik tersebut termasuk riba nasi’ah.

Hukum Riba


Hukum riba adalah haram, hal tersebut sudah dijelaskan di Al-Quran. Bahkan tak hanya Al-Quran, di kitab suci agama lain pun juga dijelaskan. Pada jaman dahulu agama lain juga melarang adanya riba, tapi lama-kelamaan larangan tersebut melemah bahkan menghilang.
Dalam Al Quran, terdapat empat surat yang membahas khusus tentang hukum riba.
Yang pertama dalam surat Ar-Rum ayat 39 yang artinya Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)

Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa riba tidak diridhai Allah. Jika ingin membantu orang lain, sebaiknya jangan dengan cara riba, lakukan saja dengan cara berzakat dan bersedekah.

Peringatan tentang hukum riba selanjutnya dijelaskan dalam surat An-Nisa’ ayat 160-161 yang menjelaskan bahwa riba termasuk perbuatan dzalim pada orang lain. Arti ayatnya secara utuh yaitu “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”

Hukum bagi riba juga dijelaskan pada surat Ali ‘Imran ayat 130 yang artinya “hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”

Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah riba nasi’ah. Menurut sebagian besar ulama, riba nasi’ah selamanya termasuk haram meskipun tidak berlipat ganda.

Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 275 yang artinya “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapatkan peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.

Hukum riba bagi umat islam sudah dijelaskan di Al Quran. Jadi sebagai seorang muslim, kita sebaiknya menjauhi apapun yang berhubungan dengan riba.

Riba juga termasuk salah satu dari tujuh dosa besar, sebagaimana sabda Rosulullah “jauhilah kalian dari tujuh hal yang menghancurkan atau membinasakan, mereka bertanya apa itu wahai Rasulullah? beliau berkata: syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan benar, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh perempuan baik-baik melakukan zina”.

Hukum Riba Bagi Peminjam


Setelah mengetahui hukum yang melandasi dilarangnya perbuatan riba, lalu bagaimana hukum riba bagi yang meminjam?

Saat si peminjam posisinya baru mengetahui seluk beluk tentang riba setelah melakukan peminjaman uang secara riba, maka tak apa. Urusannya dikembalikan pada Allah. Dia harus taubat setelahnya. Taubat nasuha, taubat yang sungguh-sungguh dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Namun jika si peminjam sudah mengetahui larangan tentang riba sebelumnya dan dia tetap melakukannya, maka Allah melaknatnya dan mengancamnya menjadi penghuni neraka.

Lalu bagaimana jika mengetahui hukum tentang riba nya setelah terlanjur meminjam uang di perbankan yang menerapkan riba? Apakah peminjam harus berhenti membayar bunga?

Jika sudah terlanjur, lanjutkan saja melakukan pembayaran cicilan dan bunganya karena sudah terjadi kesepakatan sebelumnya. Jika tidak dibayar nanti malah bisa dikenai hukuman. Pembayaran bunga dianggap saja sebagai konsekuensi ketidaktahuan kita atas hukum riba.

Perbanyak juga memohon ampun pada Allah, semoga perbuatan yang dilakukan masuk dalam kesalahan yang dilakukan karena tidak mengetahui dasar hukumnya, yang mana dosanya berbeda dengan pelaku riba yang telah mengetahui hukumnya.
Perbaiki juga tingkat iman dan amal shaleh agar kesalahan yang telah dilakukan berkurang dosanya.

Bila uang pinjaman digunakan untuk usaha dan menghasilkan keuntungan, apakah semua keuntungan termasuk uang riba?

Uang pokok yang dipinjam tidak termasuk riba. Uang riba yang dimaksud itu adalah bunga hasil pinjaman. Dan sebagai peminjam tentu tidak menggunakan uang tersebut. Jadi keuntungan yang didapat dari usaha hasil pinjaman tidak termasuk riba.

Namun hal tersebut jangan dijadikan acuan untuk tetap meminjam uang pada bank, karena meskipun bukan pemakan harta riba, si peminjam termasuk orang yang membuat adanya harta riba. Sama saja dengan kita memberi makan si pemberi pinjaman dengan harta riba.

Dalam hadist riwayat Muslim 4177, dijelaskan bahwa Rosululllah melaknat orang yang memakan riba, penyetor riba, juru tulis, dan dua saksi transaksi riba. Rosulullah bersabda, “mereka itu sama”.

Jadi pelaku riba pun tak hanya pemakan riba saja (rentenir), tapi juga penyetor riba (orang yang meminjam), pencatat transaksi riba, dan dua saksi transaksi riba. Semuanya mendapatkan dosa yang sama.

Intinya saat melakukan pinjaman di bank yang menerapkan riba, uang yang kita pinjam tidak haram, bukan termasuk riba, tapi apa yang kita lakukan termasuk dosa besar karena melancarkan aksi orang yang melakukan perbuatan riba.





0 comments