Perbedaan Kredit Syariah dan Konvensional - Tanpahutang.com

Perbedaan Kredit Syariah dan Konvensional

Perbedaan Kredit Syariah dan Konvensional

Perbedaan Kredit Syariah dan Konvensional

Saat ini sektor ekonomi yang berhubungan dengan kebutuhan hidup masyarakat semakin meningkat. Gaya hidup masyarakat juga semakin modern. Hal tersebut membuat masyarakat mau tidak mau mengikuti perkembangannya. Untuk itulah, kredit multi guna saat ini menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang tidak mau ketinggalan zaman.

Kredit multi guna atau biasa disebut KMG merupakan salah satu fasilitas pinjaman di bank yang mengharuskan peminjam memberi jaminan atau angunan. Bedanya dengan kredit tanpa angunan adalah jumlah yang bisa dipinjam dan batas waktu peminjamannya.

Namun saat ini kita tidak akan membahas lebih lanjut tentang kredit multi guna dan kredit tanpa angunan. Kita sekarang akan fokus membahas tentang perbedaan kredit syariah dan konvensional.

Saat ini di Indonesia banyak bermunculan kredit syariah yang biasanya diangkat oleh perbankan dengan sistem syariah. Hal tersebut dapat dimaklumi karena di indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam.

Bagi yang belum mengetahui perbedaan sistem kredit bank syariah dan konvensional, berikut ini akan dijelaskan garis besarnya.

1. Perjanjian


Dalam sisi perjanjian atau akad nya, kredit konvensional dan syariah sangatlah berbeda. Dalam kredit konvensional, perjanjiannya adalah peminjaman. Jadi peminjam atau nasabah nantinya harus mengembalikan dana pinjaman dan juga membayar bunga pinjaman yang telah ditetapkan pihak bank sebelumnya.

Menurut sistem syariah, bunga dalam hal tersebut merupakan riba. Jadi bank dengan sistem syariah tidak menerapkannya. Bank syariah menganut prinsip utama tanpa riba.

Maka dari itu, kredit syariah menggunakan salah satu dari beberapa akad berikut ini.

·      Akad jual beli (murabahah)

Akad jual beli maksudnya yaitu bank akan membeli barang yang diinginkan nasabah lalu menjualnya pada nasabah. Gampangnya begini, nasabah ingin meminjam uang untuk membeli suatu barang, maka bank akan membeli barang tersebut dan menjualnya pada nasabah dengan keuntungan tertentu. Keuntungan tersebut juga harus diketahui oleh nasabah.

Agar lebih paham, berikut contoh kasusnya. Seorang nasabah ingin membeli motor tapi dia tidak mempunyai cukup dana. Ia pun akhirnya mengajukan pinjaman ke bank syariah. Di bank nasabah harus mengungkapkan alasannya meminjam uang yaitu untuk membeli motor.

Setelah itu pihak bank yang memang memiliki uang akan membelikan motor yang diinginkan nasabah. Misal harga motornya adalah 15 juta. Lalu pihak bank menjual motor tersebut pada nasabah seharga 16,8 juta. Harga dan margin tersebut tentunya harus diketahui oleh nasabah. Setelah terjadi kesepakatan, maka nasabah tinggal mengangsur uang dengan besar dan jangka waktu yang telah disepakati bersama.

·      Akad sewa menyewa (ijarah wa iqtina)

Akad sewa menyewa maksudnya adalah bank akan menyewakan barang yang diinginkan nasabah, kemudian nasabah nantinya akan membeli barang tersebut. Panjangnya begini, nasabah ingin meminjam uang untuk membeli suatu barang, maka bank akan membeli barang tersebut dan menyewakannya pada nasabah. Setelah batas waktu yang ditentukan, nasabah bisa secara penuh membeli barang tersebut.

Contoh nyatanya begini, seorang nasabah ingin membeli mobil tapi dia tidak mempunyai cukup dana. Ia pun akhirnya mengajukan pinjaman ke bank syariah. Di bank syariah, nasabah harus mengungkapkan alasannya meminjam uang yaitu untuk membeli mobil.

Setelah itu pihak bank yang memang memiliki uang akan membelikan mobil yang diinginkan nasabah, misal mobilnya seharga 200 juta.  Pihak bank pun selanjutnya akan menyewakan mobil tersebut pada nasabah dengan harga total sewa 210 juta. Dan nasabah harus membayar biaya sewa dengan besar yang telah disepakati sebelumnya. Setelah semua biaya sewa terbayar dalam batas waktu yang telah ditetapkan, nasabah bisa memiliki mobil tersebut seutuhnya.

·      Akad capital sharing (musyarakah mutanaqishah)

Prinsip dari akad capital sharing yaitu nasabah dan bank bekerja sama dalam membeli barang. Nantinya saat nasabah sudah sepenuhnya mengangsur, maka kepemilikan barang seratus persen berada di tangan nasabah.

Contohnya begini, nasabah ingin meminjam uang untuk membeli mobil di bank syariah. Setelah itu pihak bank dan nasabah memutuskan untuk menggunakan akad capital sharing. Pihak bank dan nasabah iuran untuk membeli mobil tersebut.

Misal pihak bank membayar 70 persen dan nasabah membayar 30 persen. Nasabah harus bisa mengangsur 70 persen biaya yang dikeluarkan bank. Besar dan jangka waktu angsurannya sesuai perjanjian yang telah disepakati bersama. Jika angsuran sudah selesai, maka nasabah bisa sepenuhnya memiliki mobil tersebut.

Keduanya sama-sama mendapat keuntungan, bedanya adalah bentuk akadnya dan penyampaiannya pada nasabah.

2. Halal Tidaknya


Dalam kredit konvensional, menggunakan sistem bunga. Hal tersebut menurut syariat Islam termasuk haram. Dan saat melakukan peminjaman atau kredit pun tidak ditanyai untuk apa. Padahal bisa saja uang tersebut digunakan untuk hal-hal negatif dan bertentangan dengan nilai agama.

Berbeda dengan kredit syariah, dalam kredit syariah prinsipnya tanpa riba. Saat ingin meminjam uang pun, tujuan penggunaan uang harus dijelaskan secara terperinci. Jika untuk usaha, usaha yang akan dilakukan juga tidak boleh menyimpang dari ajaran agama islam.

3. Resiko


Dalam kredit konvensional, nasabah tetap membayar full pinjaman dan bunga seperti yang telah disepakati sebelumnya. Baik saat usahanya untung maupun rugi.

Sedangkan dalam kredit syariah, jika akad yang digunakan adalah capital sharing, maka saat nasabah mengalami kerugian dalam usahanya, pihak bank akan ikut menanggung kerugian sesuai jumlah modal awal yang telah disepakati.

4. Produk


Para nasabah biasanya melakukan kredit untuk kepentingan yang berhubungan dengan modal usaha atau untuk memenuhi gaya hidup konsumtif mereka. Kedua bank pun, baik syariah dan konvensional menyediakan jumlah dana pinjaman minimal dan maksimal yang hampir sama.

Syarat-syarat untuk mengajukan kredit multi guna juga hampir sama. Satu yang menjadi perbedaan yaitu persoalan pinjaman atau kredit yang berhubungan dengan kegiatan beribadah seperti haji dan umroh. Karena jika meminjam di bank konvensional takutnya tidak sesuai syariah, maka bank dengan sistem syariah memiliki produk khusus tersendiri. Seperti pada Bank Permata Syariah yang memiliki produk khusus pinjaman haji dan umroh.

Demikian tadi sedikit ulasan tentang perbedaan sistem kredit syariah dan konvensional. Keduanya sama-sama memberi bantuan keuangan pada kita. Bedanya hanya pada caranya. Perbedaan cara sedikit saja ternyata bisa membuat suatu barang atau dana menjadi tidak halal. Jadi pikirkan matang-matang akan menggunakan sistem yang mana saat ingin melakukan pinjaman di bank.

Namun jika terlalu pusing dengan aturan-aturan, apakah ini halal atau tidak, apakah ini menguntungkan atau tidak, maka cara aman nya adalah dengan mendapatkan uang sendiri tanpa harus hutang di bank.

Mendapatkan uang tanpa hutang bisa dimulai dengan cara bisnis online, seperti menjadi dropshipper, pubhliser iklan, affiliate marketing, membuat blog, jual beli blog, dan lain sebagainya. Anda bisa mencari lebih lengkapnya di internet.


Sekian ulasan tentang perbedaan kredit syariah dan konvensional, semoga dapat membantu.


Baca juga:

Cara Ampuh Menghadapi Debt Collector

Beli Mobil Tanpa Hutang? Mengapa Tidak, Begini Caranya




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perbedaan Kredit Syariah dan Konvensional"

Post a Comment